Kota Malang

 Stasiun Kereta Api Kota Baru Malang

LETAK GEOGRAFIS

Ketinggian : 399 - 662,5 m. dpl.      Batas Wilayah
Koordinat : 112,34'09" - 11,41'34" BT      Utara : Kabupaten Pasuruan
    7,54'52", 22 - 8,03'05", 11 LS      Timur : Kabupaten Lumajang
Kelembaban : Sejuk, kering ; 72 %      Selatan : Kabupaten Malang
Suhu : 23 - 25 derajat Celcius      Barat : Kota Administratif Batu
Curah Hujan : 1.833 mm per tahun    

SEMBOYAN KOTA MALANG

  • Tahun 1938 Malang Nominor, Sursummoveor artinya : Malang Namaku, Maju Tujuanku. Disahkan oleh Gouvernement Besluit dd. 25 April 1938 N. 027
  • Tahun 1967 (HUT Kota Praja Malang ke 50) Malang Kucecwara artinya : Tuhan Menghancurkan yang Batil, Menegakkan yang Benar. Semboyan tersebut diusulkan oleh Almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka dan erat hubungannya dengan sejarah Kota Malang dimasa Ken Arok pendiri kerajaan Singosari. Semboyan tersebut berasal dari nama daerah disekitar sebuah candi yang bernama Malang (Kucecwara). Candi tersebut diyakini keberadaanya oleh para ahli namun hingga kini masih belum ditemukan tempat yang sesungguhnya
  • Tahun 1970 Lambang dan semboyan ini disahkan oleh DPRDGR dengan Perda No.4/1970 Lebih jauh tentang asal-usul Lambang Malangkucecwara silahkan berkunjung ke Sejarah Kota Malang

TRI BINA CITA

Kondisi geografis, potensi daerah dan semangat warga AREMA yang tinggi serta mudah bekerjasama, mendorong PEMDA untuk mewujudkan citra masa depan KOTA MALANG

  • Kota Pendidikan Lingkungan yang ramah, tenang, biaya hidup relatif murah merupakan tempat yang ideal untuk belajar dan menimba ilmu. Ketersediaan sarana pendidikan yang lengkap baik formal maupun non formal  berikut fasilitas yang memadai dengan mutu Nasional menjadikan Malang sebagai Kota Pendidikan yang dapat dibanggakan
  • Kota Industri Letak geografis di pusat Jawa Timur sangat strategis bagi pengembangan industri, perdagangan dan jasa. Mobilitas masyarakat yang tinggi, kemudahan transportasi, sarana dan prasarana yang lengkap serta kegiatan ekonomi lokal yang terus meningkat menjadikan Malang sebagai kota terbesar kedua di Jawa Timur dan merupakan pasar industri yang sangat menjanjikan. Dengan segenap potensi sumber daya yang ada terus mendorong pertumbuhan Malang sebagai Kota Industri yang berkembang pesat
  • Kota Pariwisata Sebagai dataran tinggi dengan panorama yang indah, sejak jaman kolonial Malang telah dikenal sebagai tempat peristirahatan dengan julukan Switzerland of Indonesia dan Paris of East Java. Terbukti dengan banyaknya taman yang asri dan bangunan arsitektur Eropa yang sampai kini masih tetap dipertahankan. Banyaknya obyek wisata menarik didukungan  fasilitas yang lengkap seperti Hotel, Travel, Pusat Perbelanjaan, Bank, Toko Souvenir dan Kerajinan menjadikan Malang sebagai Kota Pariwisata yang siap melayani aktifitas turisme domestik dan mancanegara

PENDUDUK DAN SOSIOLOGI

  • Jumlah Kota Malang memiliki luas 124.456 Km. persegi, dihuni oleh 700.000 warganya. Kepadatan penduduk mencapai 5.000 - 12.000 jiwa per kilometer persegi dengan tingkat pertumbuhan 3.9 % per tahun. Tersebar di 5 Kecamatan (Klojen, Blimbing, Kedungkandang, Sukun dan Lowokwaru), 47 Kelurahan, 10 Desa, 442 RW dan 3.208 RT
  • Komposisi Etnik Masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA). Komposisi penduduk asli berasal dari berbagai etnik (terutama suku Jawa, Madura, sebagian kecil keturunan Arab dan Cina)
  • Agama  Masyarakat Malang sebagian besar adalah pemeluk Islam kemudian Kristen, Katolik dan sebagian kecil Hindu dan Budha. Umat beragama di Kota Malang terkenal rukun dan saling bekerja sama dalam memajukan Kotanya. Bangunan tempat ibadah banyak yang telah berdiri semenjak jaman kolonial antara lain Masjid Jami (Masjid Agung), Gereja (Alun2, Kayutangan dan Ijen) serta Klenteng di Kota Lama. Malang juga menjadi pusat pendidikan keagamaan dengan banyaknya Pesantren dan Seminari Alkitab yang sudah terkenal di seluruh Nusantara
  • Seni Budaya  Kekayaan etnik dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisonal yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Tari Topeng, namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan gaya kesenian Jawa Tengahan (Solo, Yogya), Jawa Timur-Selatan (Ponorogo, Tulungagung, Blitar) dan gaya kesenian Blambangan (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi). Untuk mengetahui lebih jauh tentang daerah2 lain disekitar Kota malang silahkan kunjungi : Daerah Sekitar Kota Malang
  • Bahasa  Bahasa Jawa dialek Jawa Timuran dan bahasa Madura adalah bahasa sehari-hari masyarakat Malang. Dikalangan generasi muda berlaku dialek khas Malang yang disebut 'boso walikan' yaitu cara pengucapan kata secara terbalik, contohnya : seperti Malang menjadi Ngalam. Gaya bahasa di Malang terkenal kaku tanpa unggah-ungguh sebagaimana bahasa Jawa kasar umumnya. Hal menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi
  • Pendatang  Kebanyakan pendatang adalah pedagang, pekerja dan pelajar / mahasiswa yang tidak menetap dan dalam kurun waktu tertentu kembali ke daerah asalnya. Sebagian besar berasal dari wilayah disekitar Kota Malang untuk golongan pedagang dan pekerja. Sedang untuk golongan pelajar / mahasiswa banyak yang berasal dari luar daerah (terutama wilayah Indonesia Timur) seperti Bali, Nusa Tenggara, Timor Timur, Irian Jaya, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

© 1997 @rema Net arema@bayside.net
Info2 Kota Malang :
globalmlg@geocities.com